Pembersihan Kapal Kuno Digelar Lagi

Pembersihan Kapal Kuno Digelar Lagi

Pembersihan Kapal Kuno Digelar Lagi

rumahberita.my.id-Pembersihan Kapal Kuno Digelar Lagi ,menghilang juga tidak pernah digelar ritus budaya akibat kasus pencurian benda-benda purbakala, kini Museum Radya Pustaka Solo kembali melaksanakan ritus pembersihan buritan kapal kuno Kiai Rajamala yang berusia 198 tahun lebih, Minggu lalu. Kapal itu pernah digunakan Raja Surakarta Pakoe Buwono IV menyusuri Bengawan Solo.

Pembersihan Kiai Rajamala baru dilakukan setelah 118 tahun lamanya disimpan di Museum Radya Pustaka. Prosesi pembersihan diawali dengan iringan pembawa obor sebagai simbol penerang jalan, diikuti kapal Kiai Rajamala yang ditutupi kain putih. Gending Jawa Rajamala yang diciptakan Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Anom sebelum diangkat menjadi PB V ikut pula mengiringi prosesi pembersihan itu. “Sebenarnya kapal ini hadiah dari Daendels kepada PB IV tahun 1809 M. Kapal ini dibuat tahun 1811 M,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Solo, Purnomo Subagyo.

Pembersihan kapal Kiai Rajamala yang berbentuk kepala raksasa berwarna merah itu juga mendapat perhatian dari masyarakat Solo. Bahkan, air bekas pencucian kapal diperebutkan untuk membasuh wajah. “Biar awet muda dan cantik,” ujar Naning, warga Solo.

Selain membersihkan kapal Rajamala, dalam jamasan tersebut juga ikut dibersihkan tujuh canthik buritan serta sebuah keris Dapur Parung Sari yang pernah dipakai putra mahkota PB IV untuk pengamanan.

“Keris itu dibuat oleh Empu Brojoguna dan digunakan untuk pengamanan saat mengiringi kapal Rajamala,” kata Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Winarso Kalinggo.

Tradisi pembersihan kapal kuno Kiai Rajamala itu, memang belum pernah dilakukan sebelumnya. Selama ini tidak ada tradisi semacam itu, sehingga event budaya ini dilakukan lebih untuk menarik perhatian wisatawan tanpa harus merusak benda-benda purbakala.

Karena peminatnya cukup banyak dari kalangan wisatawan Nusantara dan mancanegara, maka event budaya ini akan dijadikan agenda tahunan Museum Radya Pustaka Solo.

“Mudah-mudahan, dengan cara itu, minat masyarakat untuk datang ke Museum Radya Pustaka kembali pulih,” ujar Winarso Kalinggo.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

Exit mobile version