Layang-Layang yang Kusayang

Layang-Layang yang Kusayang

Layang-Layang yang Kusayang

rumahberita.my.id-Berawal dari kecintaannya terhadap Layang-Layang yang Kusayang dan keinginan melestarikan kebudayaan, serta keberadaan layang-layang nasional. Endang W. Puspoyo, seorang ahli kecantikan, meluangkan waktunya untuk berbagi kepada penggemar layang-layang di Indonesia dengan mendirikan Museum Layang-Layang bulan Maret, tahun 2003 lalu.

Museum yang satu ini tidak banyak di kenal orang, apalagi lokasinya yang menempati area seluas 3000 meter persegi di selatan Jakarta itu, boleh dikatakan terpencil. Museum memang tak nampak mencolok. Letaknya berjarak kurang lebih 500 meter dari jalan raya Pondok Labu, yaitu di Jalan H. Kamang No.38.

Dari luar hanya tampak pagar dari bata merah beraksen Bali, gerbangnya berbentuk candi dengan dua buah patung raksasa memegang gada. Begitu melewati gerbang terdapat loket sederhana berbenttuk jendela yang selalu terbuka selama jam operasional museum.

Di sebelahnya terdapat ruang audiovisual tempat menonton film dokumenter yang menceritakan keberadaan layang-layang dari dahulu hingga sekarang, dan berbagai kegunaan yang dapat dimanfaatkan manusia di bumi ini.

Masuk ke dalam lagi, di sebelah kiri, ada sebuah ruangan workshop keramik, kemudian kantor pengelola, dan terus memanjang ke belakang terdapat ruang produksi layang-layang, yang setiap harinya selalu saja ada orang yang bekerja.

Ada yang meraut bambu untuk kerangka layang-layang, memotong bahan parasut dengan solder, menempel, menggambar atau melukis, sampai memajang layang-layang di dinding ruang produksi itu. Semua terlihat indah karena perpaduan warna yang berbeda dan bentuk yang beragam.

Bagi pengunjung yang ingin membawa pulang Layang-Layang yang Kusayang, dipersilahkan membeli. Harganya mulai dari Rp.25.000 sampai Rp.150.000. “Layang-layang yang dijual ada dua macam, diamond, dan dua dimensi yang menyerupai bentuk asli. Misalnya, Burung, Capung, Kupu-kupu dan sebagainya,” kata Nai, bagian keuangan yang terkadang membantu proses produksi.

Dalam satu area yang luas dan asri ini terdapat pendopo sebagai bangunan utama museum. Berfungsi sebagai workshop bagi pengunjung yang ingin belajar membuat layang-layang, dan tempat memajang koleksi berbagai jenis layang-layang dari berbagai daerah bahkan dunia, dari yang tradisional sampai modern.

Mulai dari miniatur yang paling kecil sampai ukuran terbesar yang pernah ada di dunia, semuanya terpajang dengan baik, dan tampak indah dipandang. Yang lebih menarik lagi, ada duplikat layang-layang tertua di dunia. Ada kebanggan tersendiri, karena layang-layang tersebut bukan berasal dari negara luar, tapi dari negeri sendiri.

Layang-layang itu diperkirakan berusia 4000 tahun, panjangnya mencapai 1,30 meter dengan lebar 1,20 meter. Warnanya dominan hijau daun. Sisi-sisinya segitiga berbentuk seperti berlian. Bentuk duplikat layang-layang tertua ini diperoleh dari lukisan gua yang berada di daerah Muna Sulawesi Tenggara.

Pada gua tersebut, selain lukisan kelabang, pohon hingga meteor, ada juga lukisan orang sedang bermain layang-layang. Setelah dilakukan penelitian, ahli sejarah memperkirakan semua lukisan itu dibuat pada masa 4000 tahun lalu. Jadi, bisa disebut, orang-orang Indonesia pada jaman dahulu sudah mengenal layang-layang sebelum orang Tiongkok pada masa 3000 tahun lalu.

“Kebanyakan orang mengira asal muasal layang-layang dari Cina. Tapi jauh sebelum itu, dengan ditemukannya relief pada dinding gua Muna di Sulawesi, ternyata orang Indonesia yang lebih dahulu bermain layang-layang,” jelas Yanuar, sales marketing museum.

Tempat bermain sambil belajar

Sebagian besar pengunjung museum adalah siswa sekolah, mulai dari TK (Taman Kanak-Kanak) sampai SMP (Sekolah Menengah Pertama). Ini karena kegiatan yang ditawarkan Museum Layang-Layang penuh dengan muatan pendidikan. Ada tiga aktivitas yang di tawarkan, touring museum, menonton film, dan workshop atau belajar membuat layang-layang.

Hanya dengan Rp.10.000, pengunjung mendapatkan semua kegiatan tersebut, plus membawa layang-layang hasil karya sendiri yang terbuat dari kertas. Khusus untuk siswa TK, biasanya pihak museum menawarkan aktivitas melukis pada layang-layang atau payung, sebagai ganti aktivitas membuat layang-layang.

Seperti penuturan Lely yang membawa anak didiknya dari TK Dian Harapan, Lippo Karawaci, Tangerang. “Mereka (siswa Tk) lebih senang meggambar. Dan harapan kami mengajak mereka ke sini, supaya mereka dapat mengeksplorasi dengan media dan suasana yang berbeda,” papar Lely, yang mengaku hampir lima tahun menjadi guru TK.

Dan Vella, salah satu siswa TK asuhan Lely mengaku senang bisa bermain dan belajar di museum layang-layang. “Tadi aku pilih layang-layang untuk gambar,” ujar Vella, menunjukan ketertarikannya pada layang-layang ketimbang payung yang juga disediakan oleh pendamping dari museum.

Koleksi dari Seluruh Indonesia.

Diantara seluruh koleksi layang-layang yang kurang lebih berjumlah 500 buah, koleksi dari seluruh Indonesia ada di sini, lengkap dengan penjelasan dan kegunaan layang-layang pada daerah-daerah di belahan bumi nusantara. Misalnya, dari Kalimantan Selatan. Dipajang dalam museum dan digantung berdiri. Panjangnya hingga mencapai pucuk atap ruangan. Namanya, Dandang Laki. Kata dandang, diambil dari sebutan alat memasak nasi di daerah Kalimantan Selatan berupa sejenis panci.

Layang-layang Dandang Laki yang berwarna merah muda ini, punya pasangan sejodoh, yaitu layang-layang Dandang Bini, yang berwarna hijau gelap. Dua layang-layang ini biasanya diterbangkan pada masa sehabis panen, di tengah lahan sawah pada musim panas. Dengan pengharapan, agar musim panen selanjutnya membawa kemakmuran bagi penduduk di sana.

Pada layang-layang Dandang Laki, alat kowangan yang dipakai adalah dua bilah bambu yang dikaitkan pada rangka kepala sisi kiri dan kanannya. Bambu dengan ukuran diameter kira-kira sepuluh sentimeter tersebut bentuknya seperti kentongan. Ada celah dibuat membujur di tengahnya. Jika layang-layang Dandang Laki diterbangkan dengan hembusan angin yang cukup kencang, bunyinya bisa terdengar sejauh satu kilometer.

Ada juga dari daerah Lampung. Layang-layang Siger yang cantik ini, terbuat dari kain parasut yang dilukis dengan cat berwarna biru laut, dan dibubuhi bubuk-bubuk berwarna emas pada gambar motif ditengahnya.

“Sebenarnya bentuknya mirip dengan daerah lain, tapi yang membedakan itu bentuk kepala, motifnya, dan ekornya. Ini khasnya Lampung, kepalanya melingkar meniru bentuk sengat binatang ngengat. Dan motifnya ini adalah bentuk mahkota pengantin perempuan Lampung. Nama mahkotanya itu, Siger,” ujar Supriyadi, salah seorang tour guide museum layang-layang

Menurut tradisi di sana layang-layang digunakan sebagai alat bantu untuk memancing ikan. Ada jenis layang-layang lain selain Layang-layang Siger. Ukurannya tak terlalu besar. Layang-layang ini pada awalnya, terbuat dari daun Loko-loko, sejenis tumbuhan pakis. Daun ini diikatkan pada rangka dari bambu.

Diterbangkan untuk membawa umpan pancingan lebih jauh dari kapal. Jika layang-layang ini bergerak dan getaran benangnya terasa hingga ke tangan nelayan, berarti ujung umpan telah menjerat ikan. Sekarang, tradisi ini masih berjalan. Bahan dari daun Loko-loko diganti menjadi plastik. Tujuannya agar layang-layang tak mudah rusak bila terkena air laut.

Dari Serambi Mekah, Nangroe Aceh Darussalam, ada layangan Beseh berwarna-warni sepanjang empat meter, dan digantung pada salah satu tiang ruang museum. Berdekatan dengan layang-layang Beseh, ada pula layang-layang asli Aceh yang terbuat dari anyaman daun pandan.

Layang-layang tradisional dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat punya bentuk memanjang. Warnanya kuning kecokelatan dengan beberapa gambar berwarna di tengahnya. Menurut Supriyadi, layang-layang itu dari pelepah pohon pisang yang dibelah tipis kemudian dijemur hingga kering, lalu dibuat menjadi layang-layang dan dilukis.

Dari Jawa Barat, Layang-Layang yang Kusayang kerap disebut Papetengan. Di tengahnya, dilukis gambar Cepot, salah satu tokoh wayang golek terkenal di sana. Sedangkan dari Bali, layang-layang di sana pada awalnya menggunakan bahan dari daun dadap, biasanya di pakai untuk ritual. Layangan ini juga dipajang dekat dengan layang-layang dari Sumbawa.

Di ruang aula museum, ada beberapa layangan berukuran besar berbagai bentuk. Layang-layang Lenbulenan dari Madura, dipajang didekat pintu masuk ruang museum. Ada juga layang-layang berbentuk kereta kencana (lengkap dengan kudanya), naga, kapal laut, dan masih banyak lagi.

Karena rata-rata ukuran layang-layang teramat besar, dan ruangannya juga terbatas, seluruh koleksi museum di pajang bergantian setiap enam bulan sekali. Penasaran, langsung saja datang ke Museum Layang-layang Indonesia, dan temukan berbagai cerita di balik pemainan layang-layang


Leave a Reply

Your email address will not be published.

Exit mobile version